Kamis, 24 Oktober 2019

Pareh (1936)


Pareh (dalam bahasa Sunda berarti "beras"), dirilis di luar negeri dengan judul Pareh, Song of the Rice, adalah sebuah film Hindia Belanda (sekarang Indonesia) tahun 1936. Film ini disutradarai Albert Balink dan Mannus Franken dari Belanda dan dibintangi oleh aktor amatir pribumi Raden Mochtar dan Doenaesih. Alurnya bercerita tentang cinta terlarang antara seorang nelayan dan putri petani.

Balink mulai mengerjakan film ini pada 1934, bekerja sama dengan Wong Bersaudara selaku sinematografernya. Mereka mengumpulkan dana sebesar 75.000 gulden – lebih besar daripada film-film lokal lainnya – dan memboyong Franken dari Belanda untuk membantu pembuatannya. Film ini disunting di Belanda setelah direkam di Hindia Belanda. Film ini sukses dan disambut hangat oleh penonton Eropa, namun mengecewakan para penonton pribumi; meski sukses, Pareh membuat para produsernya bangkrut.

Pareh menjadi tonggak peralihan dunia perfilman Hindia Belanda yang sudah lama berorientasi pada penonton Cina. Film-film selanjutnya mulai ditargetkan pada penonton setempat. Balink kemudian sukses besar melalui Terang Boelan (1937). Antropolog visual Amerika Serikat Karl G. Heider menganggap Pareh dan Terang Boelan dua karya sinema Hindia Belanda terpenting tahun 1930-an.

Sinopsis

Mahmud (Rd. Mochtar), seorang nelayan, jatuh cinta dengan Wagini (Doenaesih), putri seorang petani. Akan tetapi, takhayul yang berkembang saat itu meramalkan hubungan mereka akan membawa petaka. Hal ini seolah benar-benar terjadi setelah keris kepala desa dicuri, tetapi akhirnya Mahmud dan Wagini berhasil bersatu.

Produksi

Sepanjang 1934 dan awal 1935, semua film fitur yang dirilis di Hindia Belanda diproduseri The Teng Chun, diadaptasi dari mitologi Cina atau seni bela diri, dan ditargetkan pada penonton kelas bawah, umumnya etnis Cina.Situasi ini tercipta akibat Depresi Besar yang memaksa pemerintah Hindia Belanda menaikkan pajak, sehingga pengiklan meminta bayaran lebih tinggi, dan bioskop menjual karcis lebih murah. Strategi tersebut berusaha menciptakan margin laba yang sangat rendah bagi perfilman lokal. Pada waktu itu, bioskop-bioskop di Hindia Belanda masih menayangkan film Hollywood.Albert Balink, seorang jurnalis Belanda, mulai mengerjakan Pareh tahun 1934. Tidak seperti The Teng Chun, Balink yang tidak berpengalaman memutuskan menargetkan filmnya pada penonton Belanda.Ia mempekerjakan dua anggota Wong Bersaudara, pembuat film Cina yang tidak aktif setelah membuat Zuster Theresia (Sister Theresa) tahun 1932.Wong Bersaudara menyumbangkan studio mereka – pabrik tepung tapioka lama – dan peralatan pembuatan film mereka. Sementara itu, pendanaannya berasal dari pihak lain. Menurut sejarawan film Indonesia Misbach Yusa Biran, dananya berasal dari pengusaha perfilman Buse,sedangkan catatan EYE Film Institute menunjukkan bahwa pendanaan film ini dibantu oleh Centrale Commissie voor Emigratie en Kolonisatie van Inheemschen dan bertujuan mempromosikan migrasi dari Jawa ke Sumatra.Balink dan Wong Bersaudara menghabiskan dua tahun untuk mengumpulkan dana dan Balink ditugaskan memimpin Java Pacific Film, sebuah usaha patungan.Balink justru menginginkan kesempurnaan dan memiliki bayangan jelas tentang aktor yang ia inginkan dalam film tersebut.Tidak seperti pembuat-pembuat film sebelumnya di negara ini, Balink menghabiskan waktu dan uangnya untuk mencari lokasi dan aktor sebagus mungkin tanpa mempertimbangkan apakah ia terkenal atau tidak.Kebanyakan pemeran Pareh belum pernah berakting sebelumnya. Peran untuk Mahmud terisi saat Balink sedang kumpul-kumpul bersama Joshua dan Othniel Wong. Ia melihat seorang pemuda tinggi, kuat, dan tampan – sesuai yang diharapkannya – sedang mengemudi. Balink memanggil Wong Bersaudara dan mereka langsung mengejarnya. Pria tersebut, Mochtar, seorang priyayi Jawa, diminta memakai gelar Raden untuk film ini. Mochtar dan keluarganya sudah tidak lagi memakai gelar tersebut.Menurut antropolog Indonesia Albertus Budi Susanto, penekanan gelar Mochtar bertujuan menarik penonton kelas atas.Pengarahan artistiknya dan sebagian penulisan naskahnya ditangani Mannus Franken, seorang pembuat film dokumenter avant-garde asal Belanda yang dibawa Balink ke Hindia Belanda. Franken memaksa agar film ini menyertakan adegan etnografis agar dapat menampilkan budaya lokal secara lebih baik kepada penonton asing. Franken tertarik dengan aspek dokumenter dan etnografi dalam film ini dan menyutradarai adegannya, sedangkan Wong Bersaudara menangani adegan umum. Menurut Biran, pembagian tugas mereka terlihat dari sudut kamera yang digunakan.Film ini, yang direkam menggunakan film 35 mm dengan peralatan sistem tunggal, dibawa ke Belanda untuk menjalani penyuntingan. Di sana, suara-suara asli pemerannya dialihkan ke suara aktor Belanda, sehingga bahasanya bercampur dan memiliki aksen Belanda yang kental.Sejak awal sampai akhir pembuatannya, Pareh menghabiskan 75.000 gulden (sekitar US$ 51.000[13]), 20 kali lebih banyak ketimbang film reguler lokal.Setelah proses penyuntingan, dihasilkan 2.061 meter film atau sama dengan durasi 92 menit.

FOR STREAMING


Tidak ada komentar:

Posting Komentar